Sir Azyumardi Azra, Muazin Bangsa yang Tetap Berjarak dengan Kekuasaan

Guru Beasr UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra memberikan siraman rohani pada perayaan syukuran dan peluncuran buku HUT Ke-50 Harian Kompas di Bentara Budaya Jakarta, Minggu (28/6/2015).
(KOMPAS IMAGES / KRISTIANTO PURNOMO)
Advertisements

AZYUMARDI Azra meninggal dunia pada Minggu (18/9/2022) di Malaysia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata pada Selasa (20/9/2022). Dikenal luas sebagai intelektual muslim, sepertinya tak banyak yang tahu bahwa Azra pada 2010 mendapat gelar Commander of the Order of British Empire (CBE) dari Kerajaan Inggris dan berhak menyandang “Sir” di namanya.

Sebagaimana diberitakan harian Kompas edisi 1 Oktober 2010, Azra—panggilan jamak untuknya—mendapat pemberitahuan soal gelar ini pada 27 Juni 2010. Penganugerahan gelar dilakukan pada 28 September 2010. Azra menjadi orang Indonesia pertama yang menyandang gelar CBE. Terlebih lagi, gelar CBE biasanya hanya diberikan kepada warga negara Inggris atau negara-negara persemakmuran bekas jajahan Inggris.

Merujuk The Honour System of The United Kingdom, gelar kebangsawanan CBE diberikan kepada seseorang yang dinilai memiliki peran nasional menonjol dari tingkat yang lebih rendah, peran utama yang mencolok dalam urusan regional melalui pencapaian atau pelayanan kepada masyarakat, atau kontribusi inovatif yang sangat terkemuka di bidang kegiatannya.

Masih menggunakan rujukan yang sama, strata kebangsawanan CBE dalam jajaran The Most Excellent Order of the British Empire hanya di bawah gelar kekesatriaan, yaitu Dame/Knight Grand Cross (GBE) dan Damehood/Knighthood (DBE/KBE).

Gelar-gelar ini mulai diberikan sejak era Raja George V pada 1917, sebagai penghargaan bagi mereka yang telah mengabdi di luar arena perang, mencakup bidang seni, sains, kerja sosial, dan pelayanan publik. Penghargaan diberikan baik kepada personel militer maupun sipil, diberikan juga kepada mereka yang berkontribusi pada pelayanan komunitas.

“Wah, tidak ada sponsor-sponsoran. Saya mau usulkan tokoh-tokoh kita. Cuma Ratu kan punya tim sendiri. Mereka yang cari figur-figur yang menurut mereka layak menerima gelar- gelar itu,” tutur Azra saat dikonfirmasi soal mekanisme pencalonan penghargaan tersebut. Tak ada pungutan biaya juga.

Muazin bangsa

Kata muazin sejatinya berarti tukang azan, penyeru panggilan shalat dalam agama Islam. Namun, konteks Azyumardi Azra sebagai muazin bangsa menjadi lebih luas. Dia memperkenalkan wajah Islam di Indonesia yang moderat dan berkemajuan hingga ke tataran global.

Istilah muazin bangsa ini sejajar dengan diksi guru bangsa, tokoh bangsa, dan siapa pun yang kemudian menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Merujuk tulisan obituari Yohan Wahyu untuk Azyumardi Azra di Kompas.id, penggunaan pertama diksi muazin bangsa merujuk pada esai Alois A Nugroho dalam buku Muazin Bangsa dari Makkah Darat (2015).

Azyumardi masuk jajaran tokoh dengan menyandang sebutan itu laiknya Buya Ahmad Syafii Maarif— yang belum lama juga telah berpulang. Bersamaan, Azyumardi Azra adalah pengkritik yang keras bagi pemerintah, dalam penyampaian yang santun. Seperti obituari yang ditulis Fachry Ali di harian Kompas edisi 19 September 2022, Azra punya kapasitas intelektualitas di atas rata-rata.

Tangkap layar obituari untuk Azyumardi Azra di harian Kompas edisi 19 September 2022 (ARSIP KOMPAS)

Disertasinya tentang jaringan ulama Asia Tenggara abad ke-19 mendapat acungan jempol dari mendiang MC Ricklefs, sosok yang juga banyak mengupas Indonesia dan Islam.

Pada 4 Maret 2022, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, itu baru menapaki usia 67 tahun. Sebelumnya, para kolega Azra menuliskan beragam testimoni untuknya dalam buku Karsa untuk Bangsa: 66 Tahun Sir Azyumardi Azra, CBE.

Seperti dimuat di Kompas.id, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD, dalam peluncuran buku tersebut secara daring pada Kamis (17/3/2022), menggambarkan Azyumardi sebagai cendekiawan muslim yang berintegritas dan selalu bersuara kritis.

Dapat disimak juga pada tautan video di atas pada minutasi 1:25:30, Azra pun tak sungkan mengkritik umat Islam. Dia menyebutkan bahwa orang Islam yang adalah mayoritas di Indonesia justru punya kecenderungan psikologis bermentalitas pecundang.

Menurut Azra, orang Islam di Indonesia juga kehilangan kosmopolitanisme. “Tidak berani untuk berargumen,” sebut dia. Sebagai muazin bangsa, Azyumardi disebut selalu menyuarakan kritiknya yang pedas. Namun, jika ada kekeliruan dalam kritik yang disuarakan pun, Azyumardi tak segan untuk mengoreksi pendapatnya. ”Saya yang duduk di pemerintahan merasa senang ada orang yang terus menyuarakan kritiknya. Kritik bukan untuk menarget seseorang secara personal, tetapi obyektif. Beliau adalah sosok intelektual yang berintegritas,” ujar Mahfud.

Isu korupsi dan pemerintahan yang koruptif ada di antara suara keras Azyumardi Azra, termasuk di rubrik opini harian Kompas. Pada 5 Desember 2011, misalnya, Azra menulis artikel berjudul Jera Korupsi.

Tangkap layar tulisan Azyumardi di harian Kompas edisi 5 Desember 2011 berjudul Jera Korupsi.(ARSIP KOMPAS).

Di situ, Azra menyatakan bahwa korupsi oleh pejabat publik tidak lepas dari sifat tamak dan hedonis.

”Memandang terus berlanjutnya korupsi dalam skala mencemaskan di kalangan para pejabat publik, korupsi yang mereka lakukan tak lain karena kerakusan. Gaji dan berbagai insentif yang mereka terima sangat lebih daripada cukup. Karena itu, mereka korupsi karena ketamakan belaka, bukan karena ”kebutuhan”,” tulis Azra.

Karenanya, Azra berpendapat hukuman untuk koruptor pun seharusnya tidak konvensional. Di antara yang tidak konvensional itu, sebut dia, adalah ancaman hukuman mati, hukuman seumur hidup, penyitaan seluruh kekayaan, dan kewajiban melakukan pelayanan sosial.

Pelayanan sosial yang dimaksud adalah diwajibkan melakukan kerja sosial tertentu, seperti membersihkan toilet umum, dalam jangka waktu tertentu. ”Kalau perlu, pakaian yang bersangkutan dilengkapi dengan tulisan ’koruptor’,” tulis Azra.

Pada 11 Januari 2018, Azra juga menulis artikel di harian Kompas, berjudul Politik Korup. Kali ini, dia menyuarakan keprihatinan tentang praktik korupsi oleh kepala daerah. Meski demikian, tulisan yang sama sejatinya relevan dengan perilaku koruptif di semua jenjang jabatan politik.

”Keterlibatan donatur atau investor politik membuat proses politik rawan manipulasi. Tidak jarang investor politik menanam kaki di beberapa tempat; memberikan ’sumbangan’ kepada sejumlah pasangan calon. Hasilnya, pasangan mana pun yang menang, sang investor tetap mempunyai kaki dalam pemerintahan,” ungkap Azra.

Berjarak dengan kekuasaan

Pengkritik yang lalu berbalik menjadi bagian dari penguasa kemudian terdiam di dalam sistem yang pernah dikritiknya, bukanlah cerita baru. Namun, Azyumardi Azra hingga mangkat tidaklah demikian. Azra tetap sederhana serta tak pernah beranjak dari lingkungan kampus dan dunia kepenulisan.

Jarak terdekatnya dengan kekuasaaan hanyalah di era Wakil Presiden Jusuf Kalla. Seperti dikutip dari laman Wakil Presiden RI, Azra pernah menjadi Deputi Bidang Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Wakil Presiden dan Staf Khusus Wakil Presiden di era Jusuf Kalla.

Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyebut keilmuan Azra sebagai yang paling otoritatif se-Asia Tenggara. Lewat akun Instagram, Lukman bertutur bahwa Azra memiliki pengetahuan keislaman yang mengakar kepada sumber-sumber klasik yang kaya dan mendalam.

Menurut Lukman, Azra tak hanya produktif menulis tetapi juga menjadi sosok teramat penting dalam transformasi IAIN menjadi UIN. Peran Azra dalam transformasi ini dituturkan lagi oleh Wakil Ketua KPAI, Rita Pranawati, lewat akun di Facebook dan Instagram.

“Saya adalah saksi bagaimana inisiasi beliau mengubah IAIN menjadi UIN, menempatkan UIN sebagai universitas yang memiliki kancah yang layak dipehitungkan tidak hanya di Indonesia tetapi juga di kancah internasional,” tutur Rita dalam unggahannya.

Dengan semua gelar, kiprah, pujian, dan capaian ini, Azra tidak menjadikan dirinya sebagai bagian dari kekuasaan. Tak ada pula posisi komisaris perusahaan pelat merah.

Keilmuan dan kepakarannya tetap berjarak dengan kekuasaan, yang jarak terdekat ke penguasa adalah menjadi staf khusus Wakil Presiden Jusuf Kalla. Itu pun, setiap masukan dan saran yang diajukannya diakui banyak kalangan selalu berbasis analisis dan obyektif.

Di luar dunia kampus—yang tak hanya di Indonesia—, Azra didapuk menjadi Ketua Dewan Pers pada 2022. Jangan silap dulu. Pada suatu masa, Azyumardi Azra tercatat sebagai wartawan majalah Panji Masyarakat. Pun, Azra adalah pendiri dan pernah menjadi Pemimpin Redaksi Jurnal Studia Islamika.

Dari kampus UIN Syarif Hidayatullah pula, jenazahnya pada Selasa (20/9/2022) diberangkatkan ke peristirahatan terakhir di TMP Kalibata. Selamat jalan, Sir Azyumardi Azra. Inna lillahi wa inna ilahi rajiun. Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa’fu’anhu. Aamiin.

Advertisements
Advertisements
Advertisements

Tinggalkan Balasan

Advertisements